Peoples Global Camp Rundown/Jadwal Kegiatan

PROGRAM RUNDOWN
People’s Global Camp
Ngurah Rai Sports Center, Denpasar, Bali, Indonesia
December 3-6, 2013

 

DEC 2
Arrival and registration (whole day)
Orientation of participants (whole day)
Venue: Ngurah Rai Sports Center
DEC 3
1 – 2PM. IPA Press Conference
Venue: Puputan (TBC)
11AM – 6PM. Global People’s Parade
The Global People’s Parade will formally
open the PGC as participants march
through the streets of Bali until the
Ngurah Rai Sports Center where a short
program will be held, highlighted with
Indonesian and international speakers
and cultural performances to express the
people’s unity for a people-centered trade
and against the WTO.
Route: From Puputan to Ngurah Rai
Sports Center
DEC 4
9AM – 12NN. Global People’s Plenary
The Global People’s Plenary shall
present both the global situation under
neoliberal globalization propelling the
people in Indonesia and all over the world
to stand up and collectively fight the
WTO.
Venue: GOR Lila Bhuana, Ngurah Rai
Sports Center
1 – 4PM. Self-Organized Activities
(Issues and Problems)
Various sectors and organizations will
hold their respective workshops and
activities to discuss how the WTO and
neoliberal globalization cause more
problems and negative impact rather than
good to their respective sectors.
Venue: Please see separate table
7 – 10PM. Solidarity Night
Let us celebrate the people’s resistance
against the WTO and neoliberal
globalization in a night of music, dance,
chants and cultural performances.
Venue: GOR Lila Bhuana

DEC 5
9AM – 12NN. Self-Organized
Activities (Resistance and
Alternatives)
Another round of self-organized
activities will be held to lay down the
various experiences of resistance as
well as alternatives to the WTO and
neoliberal globalization.
Venue: Please see separate table
1 – 4PM. Report Back Plenary
Organizations that conducted the side
events, workshops and other activities
in the self-organized activities will
each be given a short period of time
to present the results and resolutions
that came out of their respective
activities.
Venue: GOR Lila Bhuana
DEC 6
9AM – 12NN. Global People’s
Conference
All reports, especially resolutions and
recommendations, will be consolidated
and presented during this time.
Following that will be the deliberation
and approval of the PGC declaration
whose draft will be circulated
earlier.
Venue: GOR Lila Bhuana
1PM. Global People’s March
To conclude the PGC, a global people’s
march will be held with the objective of
laying down the analysis and position
of the various organizations and
movements that participated in the PGC
– which is to Junk WTO!

 

IPA SECRETARIAT CONTACT NUMBERS
For any inquiries, please contact the IPA Secretariat: Irhash (081572222066),
Ario (082122596222), Erul (081334151020), Rei (081296009019)

Advertisements

Failed WTO deal is a point for the people!

PGC poster (2)Press Release – 27 November 2013

For reference: Ahmad SH, spokesperson

A failure in the WTO deals is a step towards victory for the people.

 This is the statement of the Indonesian Peoples’ Alliance (IPA) as it celebrates the failure of trade ministers to reach a global free trade agreement in Geneva as announced by World Trade Organization director general Roberto Azevedo.

This failure only delegitimizes the WTO as a global institution that purports itself to be facilitating multilateral trade among countries. This also shows the continued failure of the WTO after Doha round.

The WTO since its inception has not in any way assisted least developed countries (LDCs) in improving their own economies but has only restricted them to the impositions of big capitalist countries like the United States.

Furthermore, WTO agreements have only caused so much suffering for the people. The Agreement on Agriculture, for example, has only caused the liberalization of the agricultural sector with poor farmers competing against cheaper agricultural imports from developed countries.

The failure in achieving a global free trade deal is a big step back for the WTO to renew its offensive to push the neoliberal globalization agenda of liberalization, deregulation and privatization that has only proven to be detrimental to the life, livelihood and rights of workers, peasants and other classes and sectors.

Such a failure only puts to light the fact that the US is being challenged in  the global trade arena.

With this failure come vigilance.

As we celebrate this failure, we must come together and strengthen our unity and resolve to fight trade monopoly that is being vouched by the WTO. Bilateral and regional trade agreements such as the TPPA (Trans Pacific Partnership Agreement) are being developed and we must continue to resist them.

The IPA supports all nations and peoples asserting their national sovereignty and aiming to protect their economy against the onslaught of neoliberal globalization. Right now, more countries are more concerned in ensuring food security and sovereignty, human rights and sustainable development rather than raking in profits at the expense of the people.

Human rights and democracy, environmental sustainability, food sovereignty and equitable development and the eradication of poverty and inequality in the world should be the aim in promoting multilateral trade. These have never been the aims of the WTO and it is with much resolve that we continue to call: JUNK WTO!

The IPA shall amplify this call in the upcoming People’s Global Camp in Bali, Indonesia on December 3-6, 2013 as a counter-conference by the people of Indonesia and the world against the WTO that will hold its 9th ministerial meeting around the same time in Nusa Dua.

Seruan Internasional IPA kepada seluruh Rakyat Dunia!

Lawan Kapitalisme Monopoli

Hentikan Monopoli Perdagangan, Junk WTO!

Tegakan Kedaulatan dan Wujudkan Perdagangan yang Mengabdi Rakyat!

Kapitalisme Monopoli telah gagal!

Krisis Multidimensional yang berkepanjangan telah membuktikan bahwa sistem yang hari mendominasi dunia telah gagal dalam menjawab kebutuhan masyarakat dunia terhadap kehidupan manusia. Didorong dan dipromosikan melalui resep-resep gobalisasi-neoliberal yang usang telah membuat usaha-usaha untuk memecahkan krisis dan dampak justru telah semakin membawa rakyat dunia kedalam jurang penderitaan dan penghisapan yang semakin dalam.

Kegagalan globalisasi-neoliberal sudah dapat diduga. Krisis ekonomi tidak menunjukan tanda-tanda pemulihan dan bahkan semakin membuat sektor energi, pangan dan iklim semakin rentan terhadp krisis. Ditengah gejala-gejala yang jelas bahwa kapitalisme monopoli semakin mundur, promosi kebijakan globalisasi neoliberal, yang bertujuan untuk mengeluarkan mereka dari resesi dunia, hanya mempromosikan jalan keluar dan mekanisme yang senantiasa diulang meskipun sudah terbukti gagal (liberalisasi, privatisasi, deregulasi), resep-resep inilah yangt justru telah melipatgandakan kedalaman daripada krisis mutlidimensi.

Konsentrasi produksi dan kapital, terjadi sebagai konsekuensi yang terjadi diantara pemilik modal monopoli internasional yang berujung pada pratek akusisi dan merger perusahaan-perusahaan kecil kepada kapital monopoli besar. Penggabungan modal perdagangan dan modal industrial telah menciptakan apa yang disebut sebagai kapital finansial, hal ini telah mendorong ekspor kapital lebih cepat dari sebelumnya. Kompetisi yang tidak terhindarkan diantara kapitalis monopoli di dunia juga menjadi sebab pembagian dunia diantara mereka, dalam rangka melipatgandakan akumulasi modal untuk bertahan dalam momentum krisis yang tidak terhindarkan, krisis adalah imperatif dalam kapitalis monopoli. Pasar bebas dan perdagangan bebas telah usai, hari ini adalah era monopoli

Proses international seperti Post-2015 Development Agenda, Aid dan Development Effectiveness; dan formasi-formasi regional seperti Asia Pacific Economic Cooperation (APEC), Association of South East Asia Nation (ASEAN), dan SAARC telah dijadikan alat bagi kapital monopoli untuk menjalan skemanya mereka: reduksi peran negara, liberalisasi perdagangan, pembukaan pasar, dan mempromosikan keterlibatan sektor swasta melalui foreign direct investment. Dalam skema untuk menjawab krisis multidimensi dunia, pemerintahan negeri-negeri utara dan para pengusaha besar secara bersama mendorong ‘green economy’ demi untuk mengeksplorasi jalan baru bagi pertumbuhan dan pada saat yang bersamaan mendorong lebih jauh privatisasi, komodifikasi, finansialisasi lingkungan. Serangan baru dari neoliberal seperti ini telah dimungkinkan melalui intensifikasi liberalisasi perdagangan dan investasi melalui berbagai macam gelombang ‘free trade agreements’ antara negeri-negeri utara dengan selatan,serta usaha untuk membangkitkan ‘Doha talks’ dalam WTO (World Trade Organization).

Sementara bank-bank besar dan perusahaan-perusahaan raksasa ditalangi kerugiannya dengan uang public, kelas pekerja dan rakyat yang sudah menderita dari pengangguran, fleksibilisasi sistem perburuhan, perampasan upah dan tunjangan, dan hilangnya kesempatan untuk mewujudkan kehidupan yang layak, telah semakin jauh dibebani dengan kebijakan pengetatan (austerity measures) yang memasukan, namun tidak terbatas, pada pemotongan subsidi sosial pendidikan dan kesehatan. Kebijakan-kebijakan ini telah memaksa jutaan rakyat pekerja diseluruh dunia masuk pada jurang penganguran, kemiskinan dan ketidaksetaraan.

WTO dan Perjanjian Perdagangan Bebas: Usaha untuk memonopoli perdagangan dunia.

Sampai hari ini, WTO tetap menjadi salah satu mekanisme yang terpenting bagi kapitalisme monopoli internasional untuk memastikan monopoli perdagangan dunia. Setelah hampir dua dekade sejak didirikan, WTO telah mewarisi perampokan sumber daya dunia oleh negeri kaya melalui perjanjian perdagangan yang timpang. Disebakan oleh tidak setara dan tidak demokratisnya sifat alamiah daripada WTO, putaran Doha, yang seharusnya mencermati kebutuhan-kebutuhan pembangunan negeri-negeri berkembang, telah digunakan untuk oleh negeri-negeri maju untuk memperluas monopoli perdagangan melalui liberalisasi dir area-area seperti invenstasi, proyek pengadaan pemerintah dan kebijakan-kebijakan tentang kompetisi.

Meskipun putaran Doha, masih tetap dalam deadlock selama 12 tahun, akibat berbagai macam tuntutan dan aksi-aksi protest rakyat yang massif, usaha untuk menerapkan agenda perdagangan model neoliberal tidak berhenti. Perjanjian perdagangan bebas bilateral maupun regional telah menjadi tempat baru untuk mengamankan konsesi-konsesi dimana negeri-negeri berkembang disyaratkan untuk mengimplementasikan kebijakan-kebijakan liberalisasi yang telah menelanjangi kebijakan-kebijakan proteksi yang selasa ini dengan susash payah dipertahankan oleh negeri negeri berkembang didalam aturan-aturan WTO. Perjanjian perdagangan bebas telah digunakan oleh negeri negeri industrial untuk menuntut lebih banyak pembukaan dari negeri negeri berkembang, dan pada saat yang bersamaan, mereka mempertahankan kebijakan proteksi terhadap pasar mereka melalui kebijakan-kebijakan tentang hak atas kekayaan intelektual, kuota-kuota, sanitasi.


Krisis multidimensi yang masih berlangsung dan semakin buruk telah membuat kapitalis monopoli untuk memaksimalkan WTO dalam Konferensi Tingkat Mentri ke 9, yang akan dilaksanakan pada 3-6 Desember 2013, di Bali, Indonesia. Saat ini yang sedang berada dala meja negosiasi mereka adalah ’Paket Bali’ yang terdiri dari fasilitas perdagangan (trade facilitation), masalah-masalah negeri-negeri yang kurang berkembang (Least Develop Countries Issues), dan pertanian (agriculture). Paket ini, bersama dengan ‘post-Bali issues’ (International Technology Agreement dan Trade in Sevices Agreement) digunakan oleh negeri-negeri maju untuk memperluas dan memperdalam liberalisasi diseluruh area perdagangan termasuk teknologi informasi, produk-produk lingkungan (environmental good) dan jasa, proyek pengadaan pemerintah, serta buruh migrant. Neoliberalisme adalah oxymoron, para kapitalis monopoli memakai kata liberal dan kebijakan dalam rangka untuk menghiangkan hambatan-hambatan usaha-usaha monopoli mereka.

Indonesia tuan rumah yang baik bagi kapitalisme monopoli

Kekuatan-kekuatan ekonomi asia dipandang sebagai wilayah yang “menjanjikan” karena ”pertumbuhan” ekonominya ditengah krisis ekonomi. Ekonomi-ekonomi asia seperti Cina, Korea Selatan, India dan Indonesia mampu menaikan angka pengeluaran konsumen dan perdagangan internasional, dan menyebutnya dengan istilah “Asian Century.” Nilai starategis asia untuk investasi bagi negeri-negeri maju ini, diperlihatkan melalui meningkatnya usaha-usaha kerjasama oleh Amerika Serikat dan Uni Eropa dalam menandatangani perjanjian perdagangan bebas seperti Trans Pacific Partnership Agreement (TPPA), dan kerja sama perdagangan bebas Uni Eropa-ASEAN. Fokus pergeseran ini direfleksikan dengan keterlibatan AS dan UE dalam badan-badan regional yang penting seperti APEC, ASEAN, dan KTT Asia Timur.

Indonesia secara khusus, telah mempertahankan tingkat pertumbuhan ekonominya, saat ini pada tingkat 6.2% dan diproyeksikan naik menjadi 6.6% pada 2014. Saat ini, Indonesia, telah menjadi anggota G20 dan menjadi negeri ber-ekonomi besar pada peringkat ke 16 di dunia. Pada kenyataannya, ‘pertumbuhan’ ini didorong oeleh perluasan kredit yang telah memberikan dorongan besar pada konsusmsi pribadi, perluasan sektor jasa dan memfasilitasi iklim dalam negeri bagi investasi asing.

Meskipun demikian, laporan ‘naiknya’ kesejahteraan ekonomi ini tidak dirasakan oleh jutaan rakyat Indonesia pada umumnya. Lebih dari 60% masyarakat Indonesia (tani miskin dan buruh tani), masih hidup dibawah garis kemiskinan yang ditetapkan pada penghasilan 22 US $ perbulan, lebih rendah dari ukuran kemiskinan Bank Dunia yang ditetapkan pada pengahasilan harian 2 US $ per hari. Jurang kemiskinan semakin dalam, terutama diwilayah pedesaan seperti di Maluku dan Papua, dimana rakyat miskin disana sebesar 24.1% dari populasi diwilayahnya. labor casualization dan flexibilitization dan penganguran tetap merajalela. Dari total tenaga produktif Indonesia, 60% nya merupakan pekerja informal di pendapatnnya rendah dan rentan terhadap eksploitasi dan keselamatan kerja. Tingkat kesetaraan pendapatan yang diukur melalui koefisiensi GINI ikut memburuk dari 0.35 pada 2008 menjadi 0.41 pada 2011, tak ada peningkatan signifikansi. Penurunan subsidi untuk komoditas dasar dan jasa seperti listrik, air, dan pendidikan telah menyebabkan naiknya ongkos pada hal-hal dasar tersebut, semakin tidak terjangkau bagi mayoritas rakyat Indonesia pada umumnya.

Indonesia secara bersungguh-sungguh mengimplementasikan reformasi ekonomi yang didiktekan oleh IMF, Bank Dunia, dan WTO, telah membuat Indonesia bergantung pada impor dan rentan terhadap resesi dunia. Pada tahun 2012, pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono-Budiono telah menghabiskan 20,3 Miliar US $ pada impor minyak dan 13 Miliar US $ pada impor pangan. Ditahun yang sama, nilai perdagangan Indonesia turun sebanyak 1.6 miliar US $ akibat krisis kapitalis monopoli dan impor. Namun, disaat yang bersamaan Indonesia terus mengejar ilusi berbagai macam perjanjian ‘perdagangan bebas’ seperti Indonesia-Japan Economic Partnership Agreement (IJEPA), US-Indonesia Comprehensive Partnership, Indonesia-Europe Free Trade Agreement, ASEAN-China Free Trade Agreement, ASEAN-Korea Free Trade Agreement, ASEAN-India Free Trade Agreement, ASEAN-Australia and New Zealand Free Trade Agreement, dan serangkaian perjanjian komprehensif lainnya.

Privatisasi dan proteksi bagi perusahaan-perusahaan juga semakin membuat situasi memburuk. Badan Usaha Milik Negara (BUMN) semakin banyak yang diprivatisasi, 110 perusahaannya telah dijual pada tahun 2012. Insentif-insentif seperti tax holiday dan tunjangan pajak yang diberikan oleh pemerintahan SBY-Budiono dilakukan untuk menarik investasi. Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) di Kepulauan Riau dan Sabang, Aceh, dibuka sebagai surga bagi investor karena dapat mengeksploitasi kelas buruh di kawasan tersebut, sesuai dengan aturan dikawasan tersebut.

Dalam pertaruhan dan usahanya dalam menarik lebih banyak investor asing, Perintahan SBY-Budiono telah memainkan peran yang baik sebagai “tuan rumah yang baik” dalam beberapa rapat-rapat tingkat tinggi yang dilakukan untuk memajukan skema kapitalisme monopoli dan kebijkan globalisasi-neoliberal: the High-level Panel on Sustainable Development, the UN High Level Panel on the Post 2015 Development Agenda (March), Asia Pacific Economic Cooperation (APEC) Summit (October), and the World Trade Organization (WTO) Ministerial Meeting (December).

Pembangunan yang mengabdi rakyat

Rakyat berkepentingan untuk mengkahiri kapitalisme monopoli, monopoli perdagangan dan krisis, yang telah merampas serta menghisap jutaan rakyat, sementara mereka semakin meningkatkan konsentrasi kesejahteraan ditangan segelintir kecil elit dunia, para pemilik modal monopoli dunia. Rakyat harus menghentikan kesenjangan dan ketidakadilan hubungan antar negeri-negeri, yang telah membuat dan mempromosikan eksploitasi model kolonialisme. WTO dan perjanjian-perjanjian perdagangan bebas, bersama dengan keseluruhan sistem kapitalis monopoli global harus diakhiri dan diganti dengan sebuah hubungan alternative yang berakar pada kedaulatan dan kerjasama pembangunan yang saling menguntungkan. Kredo pembangunan harus dikembalikan yaitu Pembangunan yang mengabdi pada rakyat

Pembangunan yang mengabdi rakyat, menjunjung rakyat sebagai satu-satunya kekuatan perubahan, mengakui ketidakadilan sosial, lingkungan dan ekonomi, dan juga melihat masalah structural yang menghalangi rakyat rakyat untuk hidup dengan harga diri. Pembangunan yang mengabdi rakyat mensyaratkan redistribusi kesejahteraan, kekuasaan, dan kesempatan serta menyerukan untuk mengakhiri rejim perdagangan dan ekonomi yang disandarkan pada eksploitasi sumberdaya alam dan rakyat. Pembangunan yang mengabdi rakyat menyerukan wujudkan keadilan sosial untuk mewujudkan segala bentuk diskriminasi, marginalisasi, eksklusi dan mewujudkan akuntabilitas serta mendukung tuntutan rakyat terhadap pemerintahan yang demokratis dan adil.

Pada sektor perdagangan, pembangunan yang mengabdi rakyat menyerukan perombakan arsitektur perdagangan internasional, finansial dan moneter, untuk memastikan negeri-negeri berkembang mendapatkan tempat bagi perumusan kebijakan dalam rangka mendorong kepemilikan dalam program pembangunannya, hukum, dan hubungan, yang mempromosikan kesetaraan antar negeri-negeri, dan secara bersamaan mempromosikan perlakukan berbeda dan khusus bagi negeri-negeri maju.

Peoples’ Global Camp melawan WTO dan Kapitalisme Monopoli

Aksi-aksi rakyat yang besar, secara massif, menuntut social protection dan perubahan sistem, dilancarkan hampir setiap negeri di dunia. Tipuan-tipuan dan serangan yang fasis terhadap mereka, tidak mampu membendung gelombang-gelombang aksi massa yang melawan kebijakan pengetatan, pencabutan subsidi sosial, dana talangan bagi bank-bank dan perusahan-perusahaan besar, liberalisasi perdagangan, serta serangan-serangan terhadap hak-hak dan kesejahteraan rakyat.

Indonesian Peoples Alliance (IPA), berseru kepada gerakan rakyat ditingkat lokal, nasional, regional dan internasional, serikat buruh, organisasi-organisasi akar rumput, dan organisasi masyarakat sipil dunia untuk bersatu padu melawan usaha membangkitkan agenda kapitalis monopoli melalu kebijakan neo liberal di Rapat Tinkat Menteri WTO ke 9, 3-6 Desember 2013, Bali, Indonesia. IPA mengundang seluruh pihak yang berkepentingan dalam kampanye ini ke Peoples Global Camp yang akan diorganisir sebagai kegiatan alternative di Bali, yang akan diselenggarakan secara bersamaan dengan Konferensi Tingkat Menteri WTO.

Peoples Global Camp (PGC) adalah tempat untuk pembelajaran, analisa dan aksi kolektif untuk melawan kebijakan neoliberal dan WTO. Tidak seperti WTO yang eksklusif dan tidak demokratis, PGC adalah ruang bersama untuk menghubungkan berbagai macam kegiatan organisasi-organisasi, dimana kegiatan-kegiatan tersebut akan berkontribusi dalam sebuah pertemuan umum, dimana aspirasi dan tujuan-tujuan bersama untuk mengkahiri sistem dan kegagalam kapitalis monopoli akan dipersatukan.

Indonesia’s Militant Working Class calls: JUNK WTO!

dok. private

dok. private

Jakarta (12 November) The militant workers’ movement in Indonesia, the Federation of Independent Trade Union (or GSBI-Gabungan Serikat Buruh Independen), mobilized more than 3,000 members from Karawang, Tanggerang, Cikarang and Bekasi (industrial complex that surround Jakarta) in a mass demonstration that called for a wage increase for all Indonesian workers and the subsequent junking of the World Trade Organization, or WTO.

No less than 3,200 workers marched through the busy streets of Jakarta to the Presidential Palace and the Embassy of the United States of America to express their unified stance against the Indonesian government’s continued sellout of its own natural resources and people in its bid to host the WTO and further propagate the neoliberal policies that the WTO imposes.

Rudy HB Daman, chairperson of the GSBI, said: “What the Susilo Bambang Yudhoyono-Budiono administration is applying is cheap labor politics that only attacks and violates the basic and sectoral rights of Indonesian workers.”

More than 30,000 workers in Sukabumi-West Java also participated in the said demonstration through their own action in Sukabumi.

Continue reading

IPA Call to Action Gather More Endorsements as WTO MC9 Approaches

Around 195 movements, organizations, and networks from the different global regions signed on to endorse the Peoples’ Global Camp against WTO and Neoliberalization.
The Peoples Global Camp (PGC) is being organized by the Indonesian Peoples Alliance (IPA) from Dec. 3-6, 2013 in Bali, Indonesia as a counterpoint to the official WTO meetings. The PGC is the people’s space – to come together, share and learn from each other’s experiences of struggle and resistance to the WTO, neoliberal globalization and its renewed offensive.
We would also like to reiterate our call to do simultaneous in-country actions on December 6, the Global Day of Action. 
 
Below is a complete list of endorsements to the Peoples’ Global Camp (updated as of November 5, 2013).
For participation and application of self-organized events, please register at: http://bit.ly/PGCRegistration

For inquiries and others, you may send an email to:indonesianpeoplesalliance@gmail.com/sekretariat.ipa@gmail.com

National Organizations

All Nepal Peasants Federation
Association of Concerned Filipinos,Hong Kong
Association of Indonesian Migrant Workers,Hong Kong
Bangladesh Krishok Federation
Bangladesh Kishani Sabha
Barisan Pemuda Adat Nusantara (BPAN), Indonesia
BAYAN USA
BOMSA, Bangladesh
CAFSO-­‐WRAG for Development, Nigeria
Campaign 2015+ International, Nigeria
Center for Research and Advocacy, Manipur
Citizens Concern for Dams and Development,Manipur
Committee on the Protection of Natural Resources in Manipur
Cordillera Alliance, Hong Kong
Ecumenical Institute for Labor Education & Research (EILER), Philippines
Equity and Justice Working Group, Bangladesh
Filipino Friends,Hong Kong
Filipino Migrant Association, Hong Kong
Filipino Migrant Workers Union, Hong Kong
Friends of Bethune House, Hong Kong
GABRIELA Hong Kong
IMA Research Foundation, Bangladesh
Indonesian Migrant Muslim Alliance (GAMMI), Hong Kong
Indonesian Migrant Workers Union, Hong Kong
Institute for National and Democracy Studies (INDIES), Indonesia
Karapatan Alliance for the Advancement of People’s Rights-­‐Philippines
NGO Jahon, Tajikistan
Labour, Health, and Human Rights Development Center, Nigeria
LIKHA Cultural Group, Hong Kong
LRC-­‐KJHAM/Legal Resource Center for Gender Justice & Human Rights Semarang
MIGRANTE, The Netherlands
MIGRANTE Sectoral Party, Hong Kong
Mission Movers, Hong Kong
Overseas Nepali Workers Union, Hong Kong
Pangasinan Organization for Empowerment and Rights, Hong Kong
Sahanivasa, India
Sarawak Dayan Iban Association, Malaysia
SHAZET Public Association,Kyrgyzstan
Sustainable Development Foundation,Thailand
Thai Regional Alliance, Hong Kong
TransAsia Sisters Association, Taiwan
United Filipinos in Hong Kong (UNIFIL)
United Indonesian Against Overcharging, Hong Kong
United Pangasinan in Hong Kong
VIVAT,Indonesia
VOICE, Bangladesh
Yamakindo-­‐Yayasan Mandiri Kreatif, Indonesia
Yayasan LINTAS NUSA, Indonesia
Yayasan Transformasi Legra Indonesia

Regional and International Organizations

Alliance Sud, Switzerland
Alternatives, Canada
Asian Students Association (ASA)
Asia Pacific Forum on Women, Law and Development (APWLD)
Asia Pacific Mission for Migrants (APMM)
Asia Pacific Research Network (APRN)
Asian Rural Women’s Coalition (ARWC)
CARMELITE NGO
Food and Water Watch
Food and Water Watch–Europe
GRAIN
Global Justice Ecology Project (GJEP)
IBON International
International Migrants Alliance (IMA)
International Migrants Research Centre (IMRC)
Knights for Peace International
MIGRANTE Europe
MIGRANTE International
Third World Health Aid (M3M), Belgium
Peoples Health Movement

Additional endorsements received (as of November 5, 2013)

Jakarta

Aliansi Gerakan Reforma Agraria (Alliance of Agrarian Reform Movement)
AKSI
Aliansi Mahasiswa Papua (Papua Student Alliance)
Asosiasi Tenaga Kerja Indonesia (Association of Indonesian Migrant Workers Union)
Association of Indonesia Migrant Workers Indonesia (ATKI Indonesia)
Bina Insan Muda-­‐BIMA
Fatayat NU
Front Mahasiswa Nasional (National Student Front)
GEMA Indonesia
Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (Indonesian Christian Student Movement)
Gabungan Serikat Buruh Independen (Federation of Independent Trade Union)
Gerakan Pemuda Patriotik Indonesia (Indonesia Patriotic Youth Movement)
Gerakan Rakyat Indonesia (Indonesian Peoples Movement)
IKG
INSPERA
KPSHK
Lembaga Informasi Perburuhan Sedane
Lembaga Kajian untuk Studi Demokrasi dan Nasional (Institute for National and Democracy Studies)
PBHI
Jakarta
Pengurus Besar Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (Indonesian Islamic Student Movement)
Perhimpunan Keluarga Berencana Indonesia-­‐PKBI
Persatuan Pers Mahasiswa Indonesia (Indonesian Student Press Association)
Resistance and Alternatives to Globalization (RAG)
Sawit Watch
Serikat Buruh Migran Indonesia (Indonesian Migrant Workers Trade Union)
Serikat Pekerja Percetakan Penerbitan Media Informasi-­‐SPSI
Seruni
Solidaritas Perempuan (Women Solidarity for Human Right)
SPKS (Palm Oil Workers Union)
WALHI (Indonesian Environmental Forum/Friends of the Earth-­‐Indonesia)
Yakkum
Yamakindo YTLI
Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (Indonesia Legal Aid Foundation)

West Nusa Tenggara

Aliansi Masyarakat
Adat Nasional-­‐NTB
Front Mahasiswa Nasional-­‐Mataram
Front Mahasiswa Lombok Barat
FSPMS-­‐NTB
GMNI-­‐NTB
Himpunan Pelajar Mahasiswa Islam (HIPMI)Lombok Timur
JMS Lombok Timur
Koalisi Perempuan Indonesian-­‐NTB
Koslata KP-­‐ Serikat Permuda Merdeka
LARD
Media Universitas Mataram
Pilar Seni
PEDULI Lombok Timur
PENA kampus
Persatuan Alumni Darul Istiqomah (PADI) Lombok Timur
PMII-­‐NTB
PMKRI-­‐NTB
Santai
Serikat Petani Indonesia-­‐Wilayah NTB
Solidaritas Perempuan-­‐Mataram
Walhi-­‐NTB Chapter

Bali

Bali Fokus
BEM FH Universitas Mahasaraswati
Front Mahasiswa Nasional-­‐Denpasar
Frontier
JIKA-­‐KPA Bali
LBH APIK-­‐Bali
LBH Denpasar
LIMAS Bali
Walhi Bali

North Sumatera

AGRA-­‐Sumut
BAKUMSU
BITRA Indonesia
ELSAKA
FMN cabang Medan
GSBI Sumut
KDAS
Kontras Sumut
KOTIB
KSPPM
LPPM-­‐USU
PEMA-­‐USU
PKPA
Pusaka Indonesian
RAPALA Indonesia
Serikat Petani Kelapa Sawit-­‐Sumut
Serikat Petani Indonesia-­‐Sumut
Walhi Sumut

Other National Organizations

Action for Peace and Development in the Philippines (APDP), Australia
AgroSOLIDARIA, Colombia
All Lankan Peasants Front, Sri Lanka
AMIHAN (National Federation of Peasant Women), Philippines
Anakbayan USA
Andhra Pradesh Vyavasaya Vruthidarula Union (APVVU), India Borok Peoples
Human Rights Organization, Northeast India
BAYAN Canada
Center for Philippine Concerns, Canada
Cordillera Peoples Alliance, Philippines
Cordillera Youth Center, Philippines
Dharti Development Foundation, Pakistan
Gram Bharati Samiti (GBS), India
Kalikasan – Philippine Network on the Environment (PNE)
Kalipunan ng mga Katutubong Mamamayan sa Pilipinas (KAMP), Philippines
Kilusang Magbubukid ng Pilipinas (Peasant Movement of the Philippines)
Lingap Migrante, Australia
Movement for Land and Agricultural Reform (MONLAR), Sri Lanka
Naga Peoples Movement for Human Rights, Northeast India
National Network of Agrarian Reform Advocates (NNARA-­‐Youth), Philippines
PAMALAKAYA (National Federation of Smallfisherfolks of the Philippines)
Phils-­‐Australia Women’s Association-­‐ Gabriela
Phils-­‐Australia Union Link (PAUL)
Resistance and Solidarity against Agrochem TNCs (RESIST), Philippines
Roots for Equity, Pakistan
SINAGBAYAN, Philippines
South African National NGO Coalition (SANGOCO)
Tamil Nadu Dalit Women’s Forum (India)
Tamil Nadu Women’s Forum (India)
Vikalpani (Sri Lanka)

Regional and International Organizations

Asia Pacific Federation of the Hard of Hearing and Defeaned
Asian Peasant Coalition (APC)
Asia Pacific Indigenous Youth Network (APIYN)
International Fishsherfolks and Fishworkers Coalition (IFWC)
International League of Peoples Struggle (ILPS)
International Women’s Alliance (IWA)
Peace for Life
South Asian Network for Social, Agricultural Development (SANSAD)
Migrante Melbourne, Australia
Gabriela Australia
Philippines Australia Solidarity Association
Anakbayan Melbourne, Australia
CETRI – Le Centre Tricontinental, Belgium